Jumat, 12 Desember 2008

Hijauan Makanan Ternak

PENDAHULUAN

Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan, termasuk ke dalam kelompok makanan hijauan ini adalah rumput (Graminae), Leguminosa dan hijauan dari tumbuhan-tumbuhan lainnya. Seperti Scrubs, Forbs.

Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar, hijauan sebagai bahan makanan ternak biasanya diberikan dalam dua bentuk yaitu hijauan segar dan hijauan kering. Yang dimaksud dengan hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hiajauan yang diberikan dalam bentuk segar, yang termasuk hiajauan segar ialah rumput segar dan leguminosa segar. Sedangkan hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja di keringkan seperti Hay, Haylage dan Silage. Sebagai makanan ternak, hiajauan memegang peranan sangat penting, karena hijauan mengandung semua zat yang diperlukan hewan, dan khususnya di Indonesia bahan makanan hijauan memegang peranan yang istimewa karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah besar.

Permasalahan

Adapun yang menjadi permasalah dalam pratikum ini adalah, tanah yang kering dank keras, walaupun telah dilakukan pembajakan dengan menggunakan traktor.


TINJAUN PUSTAKA

Hijauan mkanan ternak merupakan makanan pokok bagi hewan memamah biak diantaranya adalah ternak sapi. Karena hijauan ini digunakan sebagai makanan pokok sudah tentu berpengaruh besar terhadap terhadap produksi ternak. ( lubis, 1973).

Salah satu penyebab kemerosotan populasi dan produksi ternak ruminansia adalah faktor makanan, di mana sumber hijauan sebagai makanan pokok ternak ruminansia amatlah terbatas. Ternaka ruminansia di Indonesia dewasa ini masih bertahan karena mengandalkan kepada sumber hijauan di luar usaha tani dan sebagian dari hasil ikutan usaha tani. Oleh karena itu baik kuantitas maupun kualitas hijauan sebagai makanan pokok ternak ruminansia jauh dari mencukupi. (Atmadilaga, 1974).

Lopez. ( 1978 ) menyatakan, bahwa kemajuan ternak dapat dicapai dengan memperbaiki breed – breed ternak. Tetapi breed yang unggul ini hanya akan memperlihatkan potensinya apabila diberikan makanan yang baik, yaitu makanan hijauan yang berkualitas tinggi. Padangpadang rumput di daerah tropis yang ditumbuhi rumput alam pada umumnya berproduksi rendah dengan kualitas yang buruk, sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi yang tinggi dari ternak –ternak tersebut. ( turner, 1969 ).

Menurut Van Soest. ( 1978 ), hijauan pada saat dipotong atau dipanen merupakan hasil gabungan antara pertumbuhan tanaman dan faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusi fotosintesis dari energi dan zat – zat makanan dari tanaman tersebut. Kondisis lingkungan selama pertumbuhan tanaman, menentukan komposisi kimia dan nilai makanan hijauan tersebut. Lopez ( 1978 ) menyatakan, bahwa beberapa faktor yang dapat mempengaruhi komposisi kimia dan nialai makanan dari rumput antara lain, umur hijauan, musim, kandungan air / kelembaban dan kesuburan tanah.

Jenis – jenis rumput yang disukai ternak dan tinggi produksinya, pada umumnya memerlukan derajat kesuburan tanah yang tinggi. Pada tanah – tanah yang subur, pertumbuhan jenis-jenis rumput ini akan mendominasi pertumbuhan rumput lain di padang rumput, species rumput yang kualitasnya rendah akan mendominasi pertumbuhan, dan drainase pada tanah yang basah atau pada tanah yang digenangi air dan irigasi pada tanah yang kering dapat merupakan sarana untuk mengganti species yang produksinya lebih tinggi. ( Mcllroy, 1977 ).

Menurut Lubis ( 1973 ), kualitas hijauan makanan ternak di Indonesia sangat rendah. Kadar protein yang dapat dicerna hanya 1,5 % dalam keadaan segar, sedangkan p di Negara Belanda kadar protein hijauan mencapai 3 %, sehingga sapi – sapi perah dapat menghasilkan susu 20 liter / hari dengan hanya menerima hijauan tanpa diberikan makanan penguat. Susetyo ( 1969 ) menyatakan, rendahnya kualitas hijauan di Indonesia disebabkan antara lain oleh sifat pertumbuhan yang cepat sehingga cepat berbunga dan berbiji yang mengakibatkan kandungan serat kasar tinggi. Menurut Frich ( 1978 ), kebanyakan rumput – rumput alam mempunyai masa pertumbuhan yang pendek sebelum kualitasnya menurun, di samping kapasitas pertumbuhannya yang rendah dibandingkan dengan species – species unggul yang dikembangkan.

Penelitian yang dilakukan di philipina ( Lopez, 1978 ) terhadap ilmu species rumput tropis seperti Panicum maximum, Pennisitum purpurium, Brachiaria mutica dan Setaria spacelata, memperlihatkan produksi bahan kering yang cukup tinggi. Rumput tersebut mempunyai respon yang cukup baik terhadap tata laksana dan pemupukan.

Diantara specues rumput unggul yang dikenal, rumput lampung merupakan salah satu jenis rumput unggul makanan ternak, tanaman berbentuk rumpun dan tahan kering, berproduksi tinggi, dan sangat disukai ternak ( Mcllroy, 1977 ).

1. Perbedaan Mutu Hijauan

Pada dasarnya perbedaan mutu hijauan dipengaruhi oleh dua fator yaitu:

  1. Faktor pembawa

Bangsa graminae (bangsa rumput) mempunyai pembawa yang berbeda dengan bangsa Leguminosa, rumput memerlukan nitrogen yang diperoleh dari dalam tanah dengan cara menyerap nitrat atau amoniak yang larut dalam air.

  1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan mempunyai peranan sangat penting. Mutu yang ada pada setiap jenis hijauan yang diwariskan oleh sifat genetic, hanya mungkin bisa dipertahankan atau ditingkatkan apabila factor lingkungan seperti keadaan tanah, iklim, dan perlakuan manusia dimanajemen dengan baik.

.2. Kebutuhan Hijauan

Kebutuhan makanan hijauan ternak pada setiap jenis hewan berbeda. Hewan ternak seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing memerlukan jumlah hijuan yang lebih banyak dari pada hewan-hewan seperti babi dan unggas. Perbedaan ini terutema terleteak pada system alat pencernaan yang berlainan. System pencernaan monogastrik adalah hewan yang memiliki system pencernaan perut tunggal seperti ternak babi dan unggas, kebutuhan bahan makanan dari jenis hijauan untuk hewan monogastrik sangat terbatas atas sedikit sekali.

METODE KERJA

Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah

Cangkul

Pisau

Grek

Pupuk kandang

Tali dan

Selang air

Cara kerja

Adapun yang dilakukan selama praktikum adalah

Pengolahan lahan dan penggemburan

Penanaman bibit

Pemeliharaan

Pemupukan

Pemotongan

PEMBAHASAN

Pengenalan rumput lampung

Rumput lampung berasal dari afrika tropika dan subtropik, akan tetapi rumput ini kurang tersebar secara luas seperti rumput Setaria anceps, rumput ini lebih tinggi dari rumput Setaria anceps dan dapat mencapai tinggi 1,5 – 3,5 cm. daunnya juga lebih besar, panjang daun dapat mencapai 70 cm, lebar daun 12 – 20 mm. Umumnya tanaman ini mempunyai bulir yang lebih besar dan lebih panjang. Kandungan asam oksalat tinggi berkisar 4.5 – 6.7 % pada waktu pertumbuhan 3 minggu. Jumlah kromosom 2n = 36, 45, 54, 63.

Adaptasi rumput lampung

Rumput lampung dapat ditanam diberbagai daerah dari dataran rendah sampai pegunungan. Rumput ini sesuai untuk daerah dengan curah hujan tahunan 1000 mm atau lebih, relative tahan genangan air bila dibandingkan dengan Setaria anceps, tidak tahan kekeringan. Rumput ini dapat beradaptasi dari tanah yang berpasir sampai liat, namun produksi yang baik adalah pada tanah lempung liat. Rumput ini cocok ditanam dengan leguminosa Desmodium sp.

Kultur teknik

Rumput lampung ini umumnya diperbanyak dengan pols, karena daya tumbuh dari biji sangat rendah. Tanaman ini sangat cocok disimpan dalam bentuk silase dan mempunyai palatabilitas yang tinggi. Produksi bahan kering berkisar 4000 – 9000 kg / Ha per tahun. Kandungan protein kasar dapat mencapai 11.3 % dan serat kasar 39.2 %.

Cara- cara penanaman

Bibit di tanam secara pols ( sobekan rumput ) pada tempat yang sudah di lubangi, sebelum bibit di tanam, bagian vegetatifnya sudah dihilangkan tujuan nya dalah utuk menghindari besarnya penguapan. Setiap pols terdiri dari 2 – 3 batang sobekan rumput dengan jarak tanam 30 x 30 cm. selanjutnya setelah tanah disekitar bibit tanahnya di injak untuk memedat kan tanah.

Perawatan rumput

Setelah selesai penanaman dilakukan penyiangan atau weeding yang bertujuan untuk memberantas jenis – jenis rumput liar ( weed ) yang mengganggu tanaman pokok. Sehingga dengan tidak adanya tanaman liar maka tanaman pokok dapat hidup dengan baik. Selain penyiangan juga dilakukan pendangiran yang bertujuan untuk menggemburkan tanah kembali. Agar proses peredaran udara dan air dalam tanah lebih sempurna. Pendangiran ini dilakukan setelah tanaman hijauan berumur satu bulan atau pada setiap rumput setelah selesai panen.

Pemupukan

Memupuk berarti memberikan zat – zat makanan kepada tanaman agar zat –zat makanan dalam tanah yang hilang atau yang dihisap tanaman bisa diganti serta dapat memperbaiki struktur daripada tanah.

Dalam hal ini pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 2 minggu denagn dosis 200 kg / pols. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang. System pemupukan dilakukan dengan cara tugal yaitu dengan membuat lubang, kemudian ditimbun untuk menghindari pencucian ( leaching ) dan terbawa oleh adanya hujan.

Pemotongan

Untuk menjamin pertumbuhan kembali ( re growth ) yang optimal, yang sehat dan memiliki kandungan gizi yang baik. Pemotongan dilakukan pada periode tertentu, yaitu pada tanaman menjelang berbunga.

Dalam hal ini pemotongan dilakukan setelah tanaman berumur 45 hari, dan tinggi pemotongan adalah 5 – 10 cmdari permukaan tanah.

PENUTUP

Kesimpulan dalam usaha di bidang hijauan makanan ternak sangat tergantung pada tersedianya bibit dan tata laksana pemeliharaan yang baik.

Maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Perlakuan terhadap tata laksana yang baik seperti: pengolahan tanah, pembibitan dan penanaman, serta pemupukan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi Rumput lampung.
  2. Panen atau pemotongan yang tepat dan baik akan berpengaruh terhadap kualitas bahan segar maupun bahan kering Rumput lampung.
  3. Tanaman Rumput lampung harus diremajakan setelah berumur 4-5 tahun, karena sangat berpengaruh terhadap nilai, bentuk dan jumlah makanan.

DAFTAR PUSTAKA

Atmadilaga, D. 1974. Sumber-sumber Potensial bagi Pengembangan Peternakan di Jawa Barat. Bandung.

Frisen, J.E.1978. Adaption Nutrition and Agronomi in “A Course Manual in Beef Cattle Management and Economic” Australian vice-chancellons Committe Prees Etching Pty. Ltd. Brisbane. pp. 16-31

Lopez, 1978 Evluation of Forages Quality and the laboratory IV. Five grass species Philiphe journal of veterinary and Animal Science. Volume IV No.2.

McIlroy, R.J. 1977. Pengantar budi daya padang rumput tropica. PT. Paramita. Jakarta.

Susetyo, Kismono dan Bejo Soewardi 1969. Hijauan makanan ternak. Direktorat Peternakan Rakyat, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Turnner, H.L. 1969. Genetic Improvement of Reproduction Rate in Sheep. Animal Breeding Abstracts. Vol 37. No. 4 pp.545-559.

Van Soest, P.J,1968. Compotition Maturiti and Nutrtive Value for Forages. Vis Departemen of Agricultural Reseach Service, Animal Husbandry Reseach Division, Beltswilla.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan pesan anda